[IM]PERFECT
I'm imperfect. But I'm perfectly me.
Sunday, April 17, 2011
I'm Nothing Like Them but I'm Happy for Them
Menurut gue jadi diri sendiri itu ya lo harus pede dan seneng ama apa yang lo punya. Kalo ada orang lain, teman-teman dekat lebih tepatnya, jauh lebih beruntung atau cemerlang misalnya, ya yaudah cuekin aja nggak usah disirikin. Contohnya teman-teman dekat gue di UI pada jago nari, design, dan lain-lain. I'm nothing like them but I'm happy for them. Gue nggak minder karena gue nggak bisa kayak mereka, tapi gue lihat aja kelebihan dan kekurangan masing-masing apa and belajar dari itu. Kalo mau bersyukur, syarat pertama itu menurut gue harus tulus buat seneng ketika temen-temen deket kita jauh lebih segala-galanya dibandingin ama kita. Kalo ama temen-temen deket aja sirik-sirikan, nggak bakal bisa deh bersyukur. Gue selalu berusaha untuk menjadi diri sendiri setiap saat. Gue ini orangnya cuek dan nggak pedulian sih ya. Gue cuma nggak menjadi diri sendiri di depan orang tua gue hahaha. Habisnya gue ini nggak terlalu deket dan jarang curhat ama orang tua gue jadi ya gue berusaha buat jadi anak sebaik mungkin aja :)
Labels:
Ignes Pricilia
Menjadi Diri Sendiri=Implementasi Rasa Syukur
Menjadi diri sendiri adalah suatu keadaan di mana kita selalu brsyukur atas segala yang Tuhan berikan kepada kita. Yang pasti, Tuhan yang menciptakan kita, beliau tahu apa yang terbaik buat kita, segala sesuatu yang beliau berikan ada hikmah & tujuan dalam penciptaannya. So, jadi diri sendiri bisa diartikan implementasi dari rasa syukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Selama kita tidak dapat bersyukur atas segala yang kita miliki, saat itulah semua kelebihan yang kita punya akan tertutupi, & saat itulah kita akan selalu merasa kurang, sehingga kita akan selalu merasa sangat "kecil" di depan orang lain, apalagi di hadapan Tuhan.
Selama kita tidak dapat bersyukur atas segala yang kita miliki, saat itulah semua kelebihan yang kita punya akan tertutupi, & saat itulah kita akan selalu merasa kurang, sehingga kita akan selalu merasa sangat "kecil" di depan orang lain, apalagi di hadapan Tuhan.
Labels:
Alamsyah Fatih Prawiranegara
do the best all the time
Menjadi diri sendiri itu percaya dan mengoptimalkan kemampuan, keunikan, dan potensi diri sendiri. Menjadi diri sendiri lebih baik daripada mencoba menjadi orang lain yang lebih baik.
Menurutku, menjadi diri sendiri itu perlu, kudu, harus, dan wajib. Tapi tidak memungkinkan juga untuk 'meniru' orang lain, tentu saja dalam hal baik yang dapat kita ambil. Karena dalam hakikatnya kita hidup berdampingan, kita tidak sendiri. Perilaku kita, kebiasaan kita, kemampuan kita juga dipengaruhi oleh orang sekitar dan lingkungan.
Yang aku lakukan untuk menjadi diri sendiri yaitu 'do the best all the time', lakukanlah yang terbaik untuk setiap pekerjaanmu, jangan setengah-setengah, optimalkan apa yang kita punya selama ini.
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, tetapi di antara manusia itu sendiri tidak ada manusia yang paling sempuna, karena manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda
Menurutku, menjadi diri sendiri itu perlu, kudu, harus, dan wajib. Tapi tidak memungkinkan juga untuk 'meniru' orang lain, tentu saja dalam hal baik yang dapat kita ambil. Karena dalam hakikatnya kita hidup berdampingan, kita tidak sendiri. Perilaku kita, kebiasaan kita, kemampuan kita juga dipengaruhi oleh orang sekitar dan lingkungan.
Yang aku lakukan untuk menjadi diri sendiri yaitu 'do the best all the time', lakukanlah yang terbaik untuk setiap pekerjaanmu, jangan setengah-setengah, optimalkan apa yang kita punya selama ini.
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, tetapi di antara manusia itu sendiri tidak ada manusia yang paling sempuna, karena manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda
Labels:
Fariz Dwi Pratama
Setiap Tindakan adalah Diri Sendiri
Menjadi diri sendiri itu jangan pernah menonton tv, membaca ataupun berbicara dengan siapapun semenjak lahir...
Diri saya saat ini adalah akibat dari sedemikian banyak peristiwa yang mana anak kembarpun tidak akan mendapati peristiwa yang sama... jadi setiap tindakan adalah diri sendiri...
Diri saya saat ini adalah akibat dari sedemikian banyak peristiwa yang mana anak kembarpun tidak akan mendapati peristiwa yang sama... jadi setiap tindakan adalah diri sendiri...
Labels:
Alif Nur Patriya Sussardi
Untungnya Jadi Diri Sendiri Bukan Kesalahan, Apalagi Dosa!
Menjadi diri sendiri itu saat kita tampil beda dari orang lain, toh kita juga diciptain beda-beda, nggak ada yang sama persis, so ngapain sama kaya orang lain?
Dan, untungnya jadi diri sendiri bukan kesalahan, apalagi dosa, jadi nggak perlu tuh takut, malu, apalagi ragu jadi diri sendiri..
Berani nyatain pendapat, berani nggak ngikutin arus pasar, berani bertanggung jawab tentunya, salah satu dari banyak cara jadi diri sendiri...
Ya, nggak ada yang sempurna memang, tapi gue cukup bahagia kok sama diri sendiri gue sekarang, soalnya gue punya orang yang gue sayang, orang yang sayang gue juga banyak (masa sih?haha), jadi gue cukup jadi diri gue sendiri, biar orang yang gue sayang bisa makin seneng, dan orang yang sayang gue makin banyak... Hahaha
Saat menjadi diri sendiri, tiap saat jadi diri sendiri tentunya, tapi namanya "diri sendiri" kan bisa berubah tuh, bisa aja dalam 4 tahun kuliah, sifat, penampilan gue berubah, intinya jadi "diri sendiri" nya tuh dinamis lah, nggak bisa gue sekarang sama kaya gue 1 detik yang lalu..
Dan, untungnya jadi diri sendiri bukan kesalahan, apalagi dosa, jadi nggak perlu tuh takut, malu, apalagi ragu jadi diri sendiri..
Berani nyatain pendapat, berani nggak ngikutin arus pasar, berani bertanggung jawab tentunya, salah satu dari banyak cara jadi diri sendiri...
Ya, nggak ada yang sempurna memang, tapi gue cukup bahagia kok sama diri sendiri gue sekarang, soalnya gue punya orang yang gue sayang, orang yang sayang gue juga banyak (masa sih?haha), jadi gue cukup jadi diri gue sendiri, biar orang yang gue sayang bisa makin seneng, dan orang yang sayang gue makin banyak... Hahaha
Saat menjadi diri sendiri, tiap saat jadi diri sendiri tentunya, tapi namanya "diri sendiri" kan bisa berubah tuh, bisa aja dalam 4 tahun kuliah, sifat, penampilan gue berubah, intinya jadi "diri sendiri" nya tuh dinamis lah, nggak bisa gue sekarang sama kaya gue 1 detik yang lalu..
Labels:
Fidelis Awig Atmoko
Memaksimalkan Kelebihan!
Menjadi diri sendiri adalah ketika kita sudah mengenali dengan jelas dan sadar siapa diri kita, termasuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri kemudian menjalani hidup sebagai diri sendiri dan dengan cara yang dimengerti dan oleh diri sendiri.
Cara mensyukuri adalah jangan mengeluhkan kekurangan tapi maksimalkan kelebihan dan kalau bisa perbaiki kekurangan itu, dan selalu menjadi diri sendiri selama sadar masih hidup sebagai manusia.
Cara mensyukuri adalah jangan mengeluhkan kekurangan tapi maksimalkan kelebihan dan kalau bisa perbaiki kekurangan itu, dan selalu menjadi diri sendiri selama sadar masih hidup sebagai manusia.
Labels:
Dewi Anjani
Selagi Kita Nyaman, Kenapa Tidak?
Menjadi diri sendiri itu seperti kita sedang makan ayam menggunakan tangan di depan banyak orang, menjilati sisa es krim di bungkus atau melakukan kebodohan di depan orang yang kita suka. Ya dengan kata lain tetap bertingkah dan berperilaku dalam batas kewajaran dan kenyamanan yang sesuai dengan diri kita, selagi kita nyaman kenapa tidak?
Untuk apa berpura pura menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan pribadi sendiri? Sangat tidak nyaman dan menjengkelkan pastinya. Terimalah perbedaan-perbedaan dan keterbatasan-keterbatasan manusia. Ingat bahwa pribadi mempunyai hak untuk berbeda dengan orang lain dan jangan menjadi pribadi yang mudah diubah sifat dan sikap oleh orang lain. Tapi kalo kebiasaan buruk yang sangat nggak wajar dan ada kritik membangun ya diterima dan disyukuri, baiknya lagi kalo ada perbaikan...
Selalu berpikir positif dan sesuai penjelasan di atas, nggak gampang dibelokkan kepribadiannya.
Menurut saya pribadi menjadi diri sendiri, ya di segala situasi karena itu yang akan menjadi pembeda dengan orang lain. Apa iya ingin menjadi pribadi dengan kehidupan yang statis dalam dunia yang dinamis? Ah itu membosankan!!
Untuk apa berpura pura menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan pribadi sendiri? Sangat tidak nyaman dan menjengkelkan pastinya. Terimalah perbedaan-perbedaan dan keterbatasan-keterbatasan manusia. Ingat bahwa pribadi mempunyai hak untuk berbeda dengan orang lain dan jangan menjadi pribadi yang mudah diubah sifat dan sikap oleh orang lain. Tapi kalo kebiasaan buruk yang sangat nggak wajar dan ada kritik membangun ya diterima dan disyukuri, baiknya lagi kalo ada perbaikan...
Selalu berpikir positif dan sesuai penjelasan di atas, nggak gampang dibelokkan kepribadiannya.
Menurut saya pribadi menjadi diri sendiri, ya di segala situasi karena itu yang akan menjadi pembeda dengan orang lain. Apa iya ingin menjadi pribadi dengan kehidupan yang statis dalam dunia yang dinamis? Ah itu membosankan!!
Labels:
Aka Ramadya Senjaya
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap orang. Terkadang banyak sekali orang yang tidak percaya diri dengan keadaan dirinya sendiri, misal, mencoba menjadi Perfect dihadapan pacarnya, ingin selalu diliat "WAH" oleh pasangannya, dan selalu ingin dikenal sebagai seorang yang "SEMPURNA" oleh lawan jenisnya...
Tapi dia tidak tahu, bahwa lawan jenis kita atau siapa pun yang kita ingin terlihat WAH, SEMPURNA di depannya itu merasakan hal yang sama dengan dia, si dia juga ingin menjadi sesuatu yang WAH, SEMPURNA di depan kita. Jika hal ini terus berlanjut, maka kedua pihak akan selalu merasa tersiksa dan merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
Oleh karena itu diperlukan sikap saling terbuka dan saling jujur di antara kita dan saling mengerti dan menerima dengan keadaan dan diri orang lain, janganlah mempermasalahkan hal tersebut, toh kita memang dari awalnya diciptakan berbeda beda jika diliat dari materi dan duniawi, kalau menurut agamaku ya, ada ayat yang menyatakan bahwa kita itu diciptakan berbangsa bangsa dan bersuku suku, tidak lain untuk kita saling mengenal dan di ayat lain juga menyatakan bahwa semua manusia itu sama, yang membedakan adalah ketakwaan kita.
Jadi tidaklah masalah dengan keadaan diri kita, terimalah diri kita apa adanya, kalau bukan kita sendiri yang menerima keadaan kita, siapa lagi yang akan melakukannya..
So, percayalah..percayalah..hehe..ingat..kita diterima orang itu bukan karena kesempurnaan kita, tapi karena kita memang dibutuhkan, dan kebutuhan dari setiap orang itu tidak sama..okee..terima kasih..semoga bermanfaat..hehe..
Tapi dia tidak tahu, bahwa lawan jenis kita atau siapa pun yang kita ingin terlihat WAH, SEMPURNA di depannya itu merasakan hal yang sama dengan dia, si dia juga ingin menjadi sesuatu yang WAH, SEMPURNA di depan kita. Jika hal ini terus berlanjut, maka kedua pihak akan selalu merasa tersiksa dan merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
Oleh karena itu diperlukan sikap saling terbuka dan saling jujur di antara kita dan saling mengerti dan menerima dengan keadaan dan diri orang lain, janganlah mempermasalahkan hal tersebut, toh kita memang dari awalnya diciptakan berbeda beda jika diliat dari materi dan duniawi, kalau menurut agamaku ya, ada ayat yang menyatakan bahwa kita itu diciptakan berbangsa bangsa dan bersuku suku, tidak lain untuk kita saling mengenal dan di ayat lain juga menyatakan bahwa semua manusia itu sama, yang membedakan adalah ketakwaan kita.
Jadi tidaklah masalah dengan keadaan diri kita, terimalah diri kita apa adanya, kalau bukan kita sendiri yang menerima keadaan kita, siapa lagi yang akan melakukannya..
So, percayalah..percayalah..hehe..ingat..kita diterima orang itu bukan karena kesempurnaan kita, tapi karena kita memang dibutuhkan, dan kebutuhan dari setiap orang itu tidak sama..okee..terima kasih..semoga bermanfaat..hehe..
Labels:
Rukdas Imam Faizal
Saturday, April 2, 2011
Saya Tidak Sempurna, Namun Tidak Menyerah dengan Menerima yang "Apa Adanya" Saja
Menjadi diri sendiri intinya berusaha dengan maksimal atas potensi dan kemampuan yang dimiliki, sekaligus terus berusaha untuk memperbaiki dan menambah kualitasnya dan yang paling penting adalah kebermanfaatan untuk sekitar.
Hidup cuma satu kali, tidakkah sia-sia kalau tidak menjadi diri sendiri.
Sering kali orang beranggapan menjadi apa adanya adalah salah satu cara untuk mensyukuri hidup, saya pribadi kurang setuju, karena secara tidak langsung hal ini menutup semangat untuk kemajuan.
Cara bersyukur yang saya jalani selama ini, tidak cepat puas atas apa yang telah diraih, saya pun setuju dengan kalimat, tidak ada manusia yang sempurna, karena dengan demikian manusia akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Namun, tidak sejalan bila kalimat itu menjadi alasan untuk menyerah dan menerima yang "apa adanya" saja.
waktu yang paling tepat untuk menjadi diri sendiri adalah saat ini juga, kapan pun dan di manapun.
Hidup cuma satu kali, tidakkah sia-sia kalau tidak menjadi diri sendiri.
Sering kali orang beranggapan menjadi apa adanya adalah salah satu cara untuk mensyukuri hidup, saya pribadi kurang setuju, karena secara tidak langsung hal ini menutup semangat untuk kemajuan.
Cara bersyukur yang saya jalani selama ini, tidak cepat puas atas apa yang telah diraih, saya pun setuju dengan kalimat, tidak ada manusia yang sempurna, karena dengan demikian manusia akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Namun, tidak sejalan bila kalimat itu menjadi alasan untuk menyerah dan menerima yang "apa adanya" saja.
waktu yang paling tepat untuk menjadi diri sendiri adalah saat ini juga, kapan pun dan di manapun.
Labels:
Arsiya Isrina Wenty Octisdah
Wednesday, March 23, 2011
Menjadi Tuan untuk Diri Sendiri
Menjadi diri sendiri itu menurutku bebas. Bukan berarti tanpa aturan, melainkan turut memperhitungkan pakem-pakem serta keberadaan orang lain.
Balik lagi, menjadi diri sendiri itu jujur. Jujur pada apa yang kita suka dan tidak suka. Ketika kamu sudah melakoni kegiatan yang kamu cintai, di situlah saat ketika kamu menjadi diri sendiri.
Entah mengapa hingga sekarang prinsip saya masih "Kerjakanlah apa yang kamu cintai, bukannya cintailah apa yang kamu kerjakan." Karena, ketika saya mulai merasa membohongi diri dan memaksakan suatu rasa ke dalam diri saya, kok rasanya seperti sudah bermain peran, dan terkesan saya tidak jujur... munafik... bukan menjadi diri sendiri.
Nah, itu sampai sekarang sering saya lakukan. Maka seringkali saya tidak bahagia dan tidak puas karena saya bagai robot yang harus ikut ke sini dan ke sana. Saya tidak betah dikontrol, diatur, dan dipaksa terpaku pada nilai atau norma tertentu. Toh saya mempunyai otoritas atas tubuh saya sendiri. Aku orangnya njelimet, dan itulah aku ketika menjadi diri sendiri. Hehehe..
Pastinya, makin ke sini, aku belajar untuk menerima dan memaklumi diri sendiri, bahwa masing-masing kita ini berbeda satu sama lain. Tidak perlu menyesali betapa diri saya ini kurang supel dibanding orang lain. Justru dengan melepaskan rasa sesal itu, malah kita dapat menjadi orang yang lebih legawa dan bisa supel menurut gaya kita sendiri. Saya unik, aneh, atau apalah.. dan saya bahagia akan label itu :)) Mungkin itu jadi salah satu caraku mensyukuri ketidaksempurnaanku.
Bahwa ada sesuatu yang Tuhan simpan dalam diri kita, yang harus diasah, dan tidak akan kelihatan kalau kita terus bercermin pada orang lain. Ada saatnya kita melihat seseorang sebagi role model, namun ada saatnya juga kita berbicara kepada diri kita, "Halo.. saya widha.. tubuh, jiwa, pikiran, dan hati.. Widha yang asli itu seperti apa ya??"
aku merasa jadi diri sendiri ketika sedang mengerjakan hobiku.
Melukis, menulis, membaca, crafting, melamun lalu ketiduran, jalan kaki di trotoar, berkomentar sesuai isi hatiku, berenang, ribet ngatur warna untuk pakaian yang kukenakan seharian itu, mengekspresikan perasaan sayang kepada orang yang aku cintai dengan leluasa, dll.
Indikator yang menunjukkan kalau aku telah menjadi diri sendiri itu gampang: aku puas, lebih mudah tersenyum, memandang dunia lebih luas dan tidak hanya sebatas emosi, waktu seakan berjalan lebih cepat, dan cobaan rasanya lebih nikmat untuk dijalani.
Balik lagi, menjadi diri sendiri itu jujur. Jujur pada apa yang kita suka dan tidak suka. Ketika kamu sudah melakoni kegiatan yang kamu cintai, di situlah saat ketika kamu menjadi diri sendiri.
Entah mengapa hingga sekarang prinsip saya masih "Kerjakanlah apa yang kamu cintai, bukannya cintailah apa yang kamu kerjakan." Karena, ketika saya mulai merasa membohongi diri dan memaksakan suatu rasa ke dalam diri saya, kok rasanya seperti sudah bermain peran, dan terkesan saya tidak jujur... munafik... bukan menjadi diri sendiri.
Nah, itu sampai sekarang sering saya lakukan. Maka seringkali saya tidak bahagia dan tidak puas karena saya bagai robot yang harus ikut ke sini dan ke sana. Saya tidak betah dikontrol, diatur, dan dipaksa terpaku pada nilai atau norma tertentu. Toh saya mempunyai otoritas atas tubuh saya sendiri. Aku orangnya njelimet, dan itulah aku ketika menjadi diri sendiri. Hehehe..
Pastinya, makin ke sini, aku belajar untuk menerima dan memaklumi diri sendiri, bahwa masing-masing kita ini berbeda satu sama lain. Tidak perlu menyesali betapa diri saya ini kurang supel dibanding orang lain. Justru dengan melepaskan rasa sesal itu, malah kita dapat menjadi orang yang lebih legawa dan bisa supel menurut gaya kita sendiri. Saya unik, aneh, atau apalah.. dan saya bahagia akan label itu :)) Mungkin itu jadi salah satu caraku mensyukuri ketidaksempurnaanku.
Bahwa ada sesuatu yang Tuhan simpan dalam diri kita, yang harus diasah, dan tidak akan kelihatan kalau kita terus bercermin pada orang lain. Ada saatnya kita melihat seseorang sebagi role model, namun ada saatnya juga kita berbicara kepada diri kita, "Halo.. saya widha.. tubuh, jiwa, pikiran, dan hati.. Widha yang asli itu seperti apa ya??"
aku merasa jadi diri sendiri ketika sedang mengerjakan hobiku.
Melukis, menulis, membaca, crafting, melamun lalu ketiduran, jalan kaki di trotoar, berkomentar sesuai isi hatiku, berenang, ribet ngatur warna untuk pakaian yang kukenakan seharian itu, mengekspresikan perasaan sayang kepada orang yang aku cintai dengan leluasa, dll.
Indikator yang menunjukkan kalau aku telah menjadi diri sendiri itu gampang: aku puas, lebih mudah tersenyum, memandang dunia lebih luas dan tidak hanya sebatas emosi, waktu seakan berjalan lebih cepat, dan cobaan rasanya lebih nikmat untuk dijalani.
Labels:
B. E Widha Karina
Subscribe to:
Posts (Atom)